Tentang Ketidaktahuan dan Ketidakmungkinan (#2)

12 0
Tentang-Ketidaktahuan-warna-244x300

“ἓν οἶδα ὅτι οὐδὲν οἶδα.”(I know that I know nothing.)

Socrates

Tentang Ketidaktahuan warna

Pada bagian pertama, saya sudah menceritakan tentang apa-apa saja yang tidak mungkin dijangkau oleh pengetahuan manusia. Bagi pembaca yang merasa tulisan saya terlalu jumpy di beberapa bagian, saya mohon maaf, itu karena saya sengaja memotong penjelasannya. Bukan karena saya merendahkan pengetahuan pembaca, melainkan karena saya merasa penjelasannya terlalu melelahkan untuk dibaca. Dan saya tidak mau maksud saya untuk semata-mata bercerita tertutup dengan analisis yang terlalu exhaustive.

Pada bagian kedua, sebagai tulisan terakhir bagi #7HariMenulis, saya akan membawa Anda ke ranah filsafat, untuk melihat apa yang pernah dicetuskan para filsuf mengenai pengetahuan. Tidak, tidak, saya tidak akan membawa Anda kepada Hegel, Popper, atau Kuhn. Saya akan membawa Anda kepada hal yang lebih dasar dari filsafat tentang pengetahuan itu sendiri, yakni kemampuan untuk mengetahui sesuatu.

Dahulu sekali, seorang filsuf bernama Aristoteles, mencetuskan bahwa apa yang kita ketahui atas dunia ini terbagi dalam dua hal: fenomena dan noumena. Fenomena adalah pengetahuan subjektif kita, yang kita ketahui lewat pengalaman dan panca indera. Sedangkan noumena adalah esensi dari segala sesuatu, the thing in itself. Ia merupakan realitas yang objektif dan ultimate. Jika rokok (serta bentuk, bau, dan rasanya) adalah fenomena, maka noumena adalah ke-“rokok”-an dari sebuah benda yang kita namakan rokok itu sendiri. Bingung? Saya sendiri juga bingung. Kita mengenal dunia dengan cara mengkategorisasikan fenomena; noumena itu sendiri tidak bisa dicapai oleh pengetahuan manusia, dan karenanya, ia merupakan sesuatu yang asing bagi kita.

Rene Descartes sendiri pernah mengeksplorasi tentang ide ini lebih jauh. Ia mengungkapkan, karena kita tidak bisa mengetahui apakah objective reality benar-benar ada atau tidak, maka satu-satunya yang bisa kita ketahui dengan pasti adalah pikiran kita sendiri. Selain itu, realitas mengenai dunia ini semata-mata hanyalah asumsi, konjektur, hal yang unwarranted. Anda tentu familiar dengan ungkapan, “Aku berpikir, maka aku ada” bukan? Descartes menandaskan, bisa saja sebenarnya dunia yang kita tinggali ini tidak nyata; semacam The Matrix atau permainan komputer The Sims. Inilah yang disebut dengan paham solipsisme. Bertrand Russell sendiri membantah habis-habisan teori ini dan menganggapnya self-defeating. Seseorang yang berpikir kalau dunia ini hanyalah sesuatu yang ada di dalam pikiran, namun di saat yang sama bisa mencetuskan ide tentang solipsisme, sama saja dengan mengimplikasikan bahwa solipsisme itu hanya rekaan pikiran saja, alias tidak nyata.

Immanuel Kant membawa ide ini kepada ranah yang berbeda, pada debat tentang kehendak bebas dan determinisme (yakni tentang apakah yang kita lakukan di dunia ini murni karena kehendak bebas atau karena ditentukan oleh alam). Kant menjelaskan, mustahil untuk menjadi sepenuhnya bebas, karena untuk menjadi bebas, manusia harus pergi melangkah keluar dari hukum alam. Sementara, hukum alam seperti yang kita tahu, adalah mengenai pengalaman dan fenomena serta bekerja secara deterministik. Kita tahu gravitasi bekerja, karena kita mengalami rasanya jatuh dan melihat benda-benda yang dilempar akhirnya jatuh ke bumi. Kant berkata kal mungkin benar semua pengalaman kita adalah deterministik, karena memang seperti itulah cara kita memahami dan mengorganisasi pengetahuan kita tentang dunia ini. Sementara itu, esensi dari kebebasan itu sendiri tidak terjangkau; ia ada di luar hukum alam. Paham ini pun diamini oleh Jean-Paul Sartre.

Lalu, bagaimana cara kita bekerja jika kita tidak pernah benar-benar merasa yakin tentang apapun?

David Hume mencetuskan tentang operation of understanding berdasarkan dua hal. Pertama, relations of ideas. Relation of ideas adalah hal yang sederhana dan dapat dibuktikan tanpa perlu menjustifikasinya dengan pengalaman apapun. Contohnya, matematika. Jika a = b, dan b = c, maka a = c. Sederhana, dan pasti.

Yang kedua adalah matter of fact. Matter of fact memerlukan pengalaman untuk menjustifikasinya. Berpikirlah tentang gravitasi sekali lagi. Tidak mungkin bagi kita untuk merasionalisasi eksistensi dari gravitasi, tanpa mengalami gravitasi itu sendiri. Siapa tahu jika besok konstanta gravitasi berubah dan gravitasi tidak bekerja lagi? Tidak ada satupun pernyataan logika dan matematika yang mengharuskan bahwa ketika kita melempar benda ke atas akan selalu jatuh ke bawah, selamanya dan akan selalu seperti itu. Tidak ada kontradiksi logika atau matematika jika tiba-tiba gravitasi bumi menjadi tiga puluh kali lebih kuat – bumi hanya akan bekerja dengan cara yang berbeda. Apa yang kita pikirkan di waktu sekarang tentang masa depan (termasuk sedetik yang akan datang), tidak bisa lepas dari asumsi bahwa alam semesta di masa depan bekerja dengan cara yang sama seperti masa lalu. Dengan kata lain, ekspektasi. Meski begitu, hanya karena kita tidak tahu tentang masa depan, bukan berarti Anda lantas tidak menghindar ketika Anda dilempar batu, dan alih-alih sibuk meyakinkan diri bahwa, “Ah, siapa tahu sepersekian detik lagi hukum fisika berubah dan batunya tidak mengenai saya.” Atas dasar ekspektasi inilah, pengetahuan tentang dunia kita lantas dibuat.

Ludwig Wittgenstein sendiri menyigi pengetahuan dengan cara yang berbeda. Jika orang tidak benar-benar yakin apakah gravitasi itu ada dan nyata, menurutnya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk meyakinkan orang tersebut sebaliknya. Pernyataan “gravitasi itu nyata” bukanlah klaim tentang bagaimana dunia bekerja, melainkan sebuah ruang untuk diskusi. Tidak ada lagi yang bisa dibahas ketika sesuatu yang begitu sederhana seperti keberadaan gravitasi diragukan habis-habisan. Skeptisisme mutlak meniadakan fondasi bagi pemahaman kita, dan menggantinya dengan sesuatu yang pada akhirnya melumpuhkan pengetahuan. Tentu saja, fondasi pengetahuan bisa berubah. Namun, akan selalu tetap ada fondasi di bawah, dan fondasi tersebut lah yang memungkinkan kita to talk about the world in a meaningful way.

Dan, pada akhirnya, pengetahuan bercabang menjadi dua aliran: empirisisme dan rasionalisme. Rasionalis berangkat pada posisi bahwa kita memiliki pengetahuan, dan pengetahuan itu berangkat dari ide. Seperti matematika dan logika. Tidak ada fakta empiris yang menerangkan kalau 1 + 1 = 2, karena semuanya berdasar pada ide tentang apa itu “1”, “+”, “=”, dan “2”. Akan tetapi, rasionalisme terjebak untuk menjelaskan fenomena seperti gravitasi, di mana kita memang harus memverifikasinya dengan suatu bukti yang empiris. Misalnya, ketika kita melihat apel yang jatuh. Pengetahuan tentang gravitasi tidak bisa semata-mata dibangun dari ide. Observasi datang terlebih dahulu, baru rumus matematikanya datang belakangan. Maka muncullah paham empirisisme.

Empirisisme menerangkan kalau pengetahuan harus dapat dibuktikan. Ia menolak habis-habisan metafisika, teologi, dan etika, karena mereka tidak bisa dibuktikan secara empiris. Meskipun begitu, empirisisme terjebak pada pernyataan mereka sendiri: “pernyataan yang tidak bisa dibuktikan tidak berarti apa-apa.” Bagaimana cara membuktikan kebenaran dari statement tadi? Self-defeating lagi, bukan? Belum lagi argumen Karl Popper yang menyebutkan bahwa kita tidak bisa membuktikan suatu hipotesis benar; kita hanya bisa membuktikan apakah ia ditolak atau dapat diterima. Anda yang belajar statistik tentu paham benar tentang hal tersebut. Contohnya yang lain lagi, kita bisa membuktikan kalau fisika klasik Newton salah pada level kuantum, karena kita melihat ada banyak fenomena yang tidak cocok dengan penjelasannya. Akan tetapi, kita tidak bisa secara konklusif menyatakan kalau relativisme itu selalu benar. Bagaimana jika nanti ia terbukti salah? Pada akhirnya, conclusiveness dari suatu pernyataan tidak dapat benar-benar dibuktikan.

Begitulah. Pengetahuan selalu akan diikuti oleh ketidaktahuan dan ketidakmungkinan yang lain. Debat seperti ini sudah berlangsung puluhan, ratusan tahun dan sepertinya tidak akan ada habisnya. Perkembangan pengetahuan tetap berjalan, dan bahkan semakin pesat. Tidak peduli apakah fondasinya kuat atau tidak. Karena jika kita berhenti menyelidiki hanya karena kita tidak tahu pasti apakah intuisi kita ini benar atau tidak, maka umat manusia akan berhenti berkembang dan peradaban akan hancur. Tentu, pengetahuan telah beberapa kali membawa kita pada kehancuran, misalnya pengetahuan kita tentang atom yang membawa kita pada senjata pemusnah massal. Namun, seringkali, ia membawa kita kepada pencerahan.

Maka dari itu, jangan berhenti berpikir, jangan berhenti bertanya, dan jangan berhenti menyelidiki hanya karena kita tidak pernah benar-benar mengerti tentang semua yang ada di dunia ini. Kata Pramoedya Ananta Toer, “[M]anusia pun bisa mengusahakan lahirnya syarat-syarat baru, kenyataan baru, dan tidak hanya berenang di antara kenyataan-kenyataan yang telah tersedia.”

About The Author

Kadang-kadang galau, kadang-kadang tidak. Masih suka melamun dan menyeduh kopi instan gratisan di KPP Penanaman Modal Asing 2.

No Comments on "Tentang Ketidaktahuan dan Ketidakmungkinan (#2)"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>